Bisnis Startup di Indonesia; apakah kita sudah siap?

“Logic will take you from A to B, but imagination will take you everywhere”

            Kutipan itulah yang mungkin menggambarkan temuan seorang pengusaha muda, Nadiem Makariem dengan bisnis transportasi ojek daring bernama Go-jek asal Indonesia. Go-jek sendiri telah berdiri sejak tahun 2010, namun kini di tahun 2017 pasarannya mulai meningkat tajam. Banyak konsumen yang menggunakan Go-jek sebagai alternative mereka dalam memilih transportasi yang aman, cepat, dan pasti dalam hal biaya. perusahaan ini pun mendapat perhatian khusus dari masyarakat. Bagaimana tidak, GO-JEK bekerjasama dengan para pengendara Ojek berpengalaman di Jakarta, Bandung,Bali dan Surabaya dan menjadi solusi utama dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja dan berpergian di tengah kemacetan. Hal ini lah yang dibutuhkan oleh masyarakat yang hidup terutama di kota-kota hectic seperti Jakarta yang malas berpergian keluar karena macet, dan lain-lain. Go-jek seperti sebuah inovasi segar yang di tunggu-tunggu banyak orang. Hal ini menjadi kemajuan, terutama pada sektor bisnis di Indonesia.

            Manajemen Go-Jek menerapkan sistem bagi hasil dengan sekitar 1000 pengemudi ojek yang saat ini berada di bawah naungan GoJek dan tersebar di Jabodetabek. Pembagiannya adalah, 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20%-nya untuk perusahaan. Namun, ternyata masih banyak dari masyarakat kita terutama para pengemudi Ojek yang beroperasi di luar naungan Go-jek yang masih sangat awam dan intoleran terhadap inovasi Go-jek yang telah menarik banyak konsumen ini. Memang, ada sisi positif dari inovasi Go-jek dimana Go-jek membuka lapangan kerja baru, adanya share value diantara driver Go-jek dan penumpang, bahkan sampai perjodohan. Tetapi, ada juga pemberitaan negatif yakni banyaknya kasus pengroyokan yang dialami oleh tukang ojek versi Go-jek oleh kelompok tukang ojek tradisional. Para tukang ojek tradisional merasa terancam karena merasa tukang ojek versi Gojek telah merebut pasar potensial mereka. Hal ini kemudian menjadi gejolak sosial di masyarakat.

            Pertanyaannya, apakah para tukang ojek konvensional ini sudah lebih baik dari segi pelayanan, harga, dan keamanan? Kita tahu bersama bahwa para driver Go-jek di seleksi terlebih dahulu untuk bisa menjadi driver yang memberikan pelayanan yang baik, apalagi Go-jek memfasilitasi konsumen ojek onlinenya dengan masker anti-polusi dan juga hair-cap. Driver Go-jek juga dilengkapi dengan seragam Go-jek dan helm bertuliskan Go-jek dalam melakukan pelayanannya, yang tentu saja lebih terlihat membuat rapi. Apakah hal-hal tersebut di terapkan oleh ojek konvensional? Pengalaman saya pribadi, saya jarang sekali ditawari menggunakan helm walaupun hanya jarak dekat. Padahal, penggunaan helm ini sendiri amat penting dalam berkendara, who knows kalau kita tiba-tiba jatuh dari motor dan kepala kita cedera? Ojek konvensional tidak bertanggung jawab atas kecelakaan ini, sedangkan Go-jek, disisi lain, memberikan jaminan asuransi bagi penumpangnya. Hal ini kemudian menjadi sangat kontras.

            Di sisi lain, kita lihat Uber yang juga merupakan salah satu perusahaan bisnis teknologi

yang berfokus di bidang transportasi yang juga menggunakan sistem online dalam pengoperasiannya. Uber sendiri berasal dari California, Amerika Serikat. Berdiri sejak tahun 2009, kini Uber telah meraup omzet hingga 6.5 Juta US Dollar pada tahun 2016. Kesuksesan Uber ini, tak terlepas dari dukungan masyarakat (yang khususnya pengguna transportasi online dan yang memanfaatkan internet). Hal ini, di dorong juga oleh kemajuan befikir masyarakatnya untuk memanfaatkan fasilitas transportasi online yang bisa kita pesan hanya lewat smartphone, duduk manis menunggu, dan ta-da! Drivernya pun datang ke rumah, tanpa kita harus capek-capek jalan mencari-cari taksi keluar rumah, atau nyamperin pangkalan ojek. Di Amerika pun, jarang sekali bahkan tidak ada penghalang untuk driver mendapatkan penumpangnya karena sistem mendapatkan penumpang adalah sistem online. Tidak seperti di Indonesia yang masih sering kali adanya pelarangan Go-jek untuk masuk wilayah komplek, bahkan sampai ada demo-demo dari pihak transportasi konvensional seperti taksi non-online dan angkot untuk menghalangi Go-jek dan transportasi online lainnya beroperasi. Untungnya, pemerintah kita sempat berada di pihak Go-jek dengan alasan “memudahkan kita membeli martabak.” Belum lagi, di Indonesia, ojek konvensional atau transportasi konvensional lainnya masih amat membutuhkan usaha ekstra untuk bisa mendapatkannya. Bayangkan saja ketika kita sedang kerepotan dari rumah ingin pergi ke kampus, jalanan macet dan jalan keluar komplek butuh 10 menit lamanya. Belum lagi ditambah panasnya terik matahari, capek gitu. Tetapi dengan adanya Go-jek, Uber, atau transportasi online lainnya, segala keluhan kita tadi bisa beres teratasi.

Untung saja Logan jadi driver Uber di Amerika, coba kalau di Indonesia, bisa di kroyok massal sama ojek konvensional.

 

            Kini, kembali ke judul. Apakah kita siap dengan bisnis startup? Apakah Indonesia siap menjadi negara maju yang tidak tertinggal dalam pemanfaatan fasilitas online seperti Go-jek dan Uber? Faktanya, dalam hal persentase belanja online, Indonesia juga tertinggal jauh. Survei yang dilakukan Globalwebindex pada 2014 menemukan persentase penduduk Indonesia yang melakukan pembelian secara online baru sekitar 16 persen. Angka ini sedikit lebih baik daripada India mencatat angka 14 persen. Namun Indonesia tertinggal jauh oleh Singapura yang sudah mencapai angka 46 persen. Dan Go-Jek, berhasil mendapatkan pendanaan Rp 2,8 triliun dari Northstar Group. Diikuti dengan Tokopedia yang tahun lalu mendapatkan Rp 1,4 triliun dari Softbank dan Sequoia Capital, dan MatahariMall mendapat pendanaan terbesar dengan total investasi Rp 6,51 triliun. Hal ini jelas membuktikan bahwa Indonesia sebenarnya mempunyai peluang untuk tumbuh sangat cepat dan besar. Dukungan dari pemerintah supaya industri digital Indonesia bisa mengatasi ketertinggalan oleh negara lain, dan juga dukungan dari masyarakat yang mau lebih open-minded terhadap inovasi dan teknologi baru yang dapat memajukan kehidupan bangsa. Caranya adalah dengan penetrasi Internet, pemberian pengetahuan mengenai inovasi-inovasi baru dengan bahasa yang mudah di jangkau oleh masyarakat awam.Hal ini harus tidak hanya terfokus di Jawa, tapi juga tersebar di daerah lain di Indonesia. Pemerintah juga harus membuka jalan dan memberikan berbagai insentif agar industri digital ini bisa tumbuh dan mendapat akses pendanaan. Meskipun masih sulit untuk Indonesia dikategorikan sebagai negara maju, bisa kan kita berusaha untuk bisa bersaing di pasar global, terutama dengan bisnis startupini?

 

Sumber:

-Naskah publikasi, Kintar Panji Antoro, SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA YOGYAKARTA, 2015.

 

-https://www.kominfo.go.id/content/detail/6095/indonesia-raksasa-teknologi-digital-asia/0/sorotan_med...

 

-http://www.kompasiana.com/maspepeng/inovasi-ala-gojek_55ffccee9597735515300a28

 

-http://www.academia.edu/30194878/Sejarah_Berdirinya_Gojek

 

-https://en.wikipedia.org/wiki/Uber_(company)

Menjadi konsumeris: toleransi terhadap barang lokal atau mengakui kualitas internasional?

  “Belilah produk-produk Indonesia. Majukan sector nasional!”

            “Cintailah plotuk-plotuk Indonesia” -iklan Maspion dengan aktor orang Cina

 

            Bila Anda sering mendengar kalimat-kalimat di atas, pasti anda berfikir bahwa kalimat tersebut merupakan ajakan untuk memakai produk-produk dalam negeri Indonesia, terlepas dari kualitas yang dimiliki oleh barang tersebut. Teori yang kita dapat dalam pembahasan ini adalah dengan memasukan User Experience (UX) terhadap barang yang digunakan oleh konsumen. User Experience (UX) adalah sebuah pengalaman yang dibuat oleh sebuah produk kepada orang-orang sebagai penggunanya didunia nyata (Garret, 2011). UX bukan semata sebuah rantai pekerjaan didalam produk tersebut atau layanan yang menjadi hal utama dalam produk. UX lebih menitik-beratkan kepada fungsi diluar produk tersebut ketika bersentuhan langsung atau terdapat kontak dengan pengguna. Interaksi yang dihasilkan ini merupakan pokok dari UX.

            Salah satu contoh yang bisa kita ambil dari UX adalah dengan membandingkan kualitas komputer jinjing (laptop) bermerk ASUS buatan Taiwan dengan AXIOO buatan Indonesia. Bila dilihat dari segi keunggulan, kita dapat menjabarkan keunggulan 2 produk sebagai berikut:

1.       Kualitas Asus sudah tidak perlu diragukan lagi. Sebab merek IT ini telah ada dan terkenal sejak zaman PC (Portable Computer).

  1. Sebagian besar laptop Asus menggunakan teknologi VGA seperti ATI Radeon dan Nvidia G Force yang cocok untuk bermain game. Sehingga Asus dikatakan sebagai merek laptop yang paling mumpuni digunakan untuk bermain game
  2. Harga terjangkau dengan berbagai fitur yang mumpuni dan sejajar dengan laptop lain di kelasnya. Contoh, hanya dengan harga 4 juta, pengguna sudah bisa menggunakannya untuk gaming
  3. Asus populer dengan ketahanan motherboard pada setiap produk yang dikeluarkannya
  4. Garansi lumayan lama dibanding vendor lainnya. Yang paling lama sekitar 2 tahun.

Kekurangan dari produk laptop ASUS adalah:

1.       Terjadi kesalahan pada beberapa seri. Untuk Asus seri 12 inchi sering terjadi error touchpad. Sedangkan untuk Asus seri K43u AMD E350 sering mengalami error harddisk. Biasanya yang banyak terjadi, pengguna tidak mengetahui hal ini. Hanya penjual yang mengetahui spesifikasi produk ini. Sehingga, pengguna harus menanyakan rincian spesifikasi produk lebih detail lagi kepada penjual.

  1. Asus sendiri tidak memiliki service center yang banyak di daerah-daerah di Indonesia. Sehingga perbaikan laptop akan lebih lama dibanding merek laptop lainnya, dan menyebabkan bisa sampai berbulan-bulan. Hal ini kemudian menjadikan sering terjadi penumpukan barang servis yang bergaransi.
  2. Asus terlalu cepat mengeluarkan seri-seri terbarunya yang biasanya Asus mengeluarkan seri terbarunya tiap sebulan sekali, dengan spesifikasi lebih tinggi dan harga yang lebih murah dari seri sebelumnya. Sehingga banyak pengguna yang terkadang merasa kecewa dan menyesal karena telah membeli seri sebelumnya.

 

Sedangkan keunggulan dari laptop lokal, AXIOO, adalah sebagai berikut:

1.       Harga lebih murah dibandingkan dengan merek lain yang berspesifikasi sama

  1. Di kelas lokal, Axioo merupakan laptop nomor satu dan terbaik.
  2. Desain laptop tipis, kualitas warna cat tahan lama.

Kekurangan dari produk laptop AXIOO adalah:

1.       CD Writer mudah rusak. Apabila sudah tidak berfungsi, CD dan DVD masih bisa digunakan.

  1. Daya tahan baterai mudah menurun atau drop. Setelah satu tahun pemakaian, baterai hanya dapat bertahan selama setengah jam.
  2. Fasilitas Wi-Fi akan sering bermasalah. Ditandai dengan Windows yang tidak mampu menemukan sinyal melalui driver Wireless LAN bawaan. Banyak pengguna yang menambahkan koneksi wireless tambahan.
  3. Charger mengalami panas yang berlebih saat digunakan
  4. Di daerah samping pad mouse juga sering mengalami panas berlebih. Pada beberapa kasus, terjadi panas yang menganggu aktivitas pengetikan.
  5. Terkadang layar jika digerakkan mengalami blank saat dioperasikan. Sehingga perlu direstart ulang untuk menghidupkan kembali.

 

Setelah kita lihat perbedaan dari segi kelebihan dan kekurangan dari 2 produk yang berbeda tempat produksi di atas, maka kita akan mengetahui produk mana yang lebih cocok dan sesuai dengan kebutuhan efisiensi kita. Dalam teori Ockam Razor menyatakan, jika ada 2 cara atau teori yang rumit, maka pilihlah yang paling simple. Hal tersebut perlunya juga di terapkan dalam pemilihan produk produktivitas seperti laptop diatas.

            Keterkaitannya dengan UX adalah mungkin, kita bukan secara spesifik tidak ingin membeli produk lokal, tetapi kebanyakan dari produk lokal kita adalah berstatus dibawah status quo dalam hal kualitas. Ketika kita menciptakan sesuatu yang bagus, orang akan membeli barang tersebut terlepas dari negara ia berasal. (Jake, Scarlattino. 2015)

            Lihat, bagaimana Jco donuts bisa secara sukses memperdagangkan produknya ketimbang Krsipy Kreme donuts. Kita tentu jelas tidak akan melihat Jco membuat slogan “Makan kita! Beli produk nasional! Cintai Indonesia!” tidak, karena donut mereka enak dari segi rasa, bagus dari segi penampilan, dan harganya yang terjangkau terlepas dari negara asalnya.

Jika kita benar-benar ingin menaikkan sektor nasional, maka naikkanlah kualitas produk nasional tersebut sama dengan kualitas produk import. Karena konsumen itu di dapat, bukan dipalsukan.

 

 

Sumber:

- anugrahpratama.com/keunggulan-dan-kelemahan-merek-laptop/

-Thesis dari Universitas Bina Nusantara mengenai Interaksi Manusia dan Komputer thesis.binus.ac.id/Doc/Bab2/2012-1-00452-IF%20Bab2001.pdf

 

-www.Quora.com